ALFIAN DWI SAPUTRA, . (2026) IDENTIFIKASI MODEL SESAR MENDATAR DAN KARAKTERISTIK REKAHAN TERHADAP PENGARUH ALTERASI DAN MINERALISASI DAERAH PENGKOK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL. Skripsi thesis, UPN "VETERAN" YOGYAKARTA.
|
Text
111220254_Cover - Alfian Dwi Saputra.pdf Download (166kB) |
|
|
Text
111220254_Abstrak - Alfian Dwi Saputra.pdf Download (234kB) |
|
|
Text
111220254_Halaman Pengesahan - Alfian Dwi Saputra.pdf Download (333kB) |
|
|
Text
111220254_Daftar Isi - Alfian Dwi Saputra.pdf Download (477kB) |
|
|
Text
111220254_Daftar Pustaka - Alfian Dwi Saputra.pdf Download (226kB) |
|
|
Text
111220254_Fulltext - Alfian Dwi Saputra.pdf Restricted to Repository staff only Download (25MB) |
Abstract
Pulau Jawa merupakan bagian dari sistem busur magmatik aktif yang dicirikan oleh interaksi tektonik kompleks dan perkembangan struktur geologi intensif. Struktur geologi berperan sebagai jalan utama sirkulasi fluida hidrotermal sehingga mengontrol proses alterasi dan mineralisasi. Kajian yang secara komprehensif mengintegrasikan model sesar mendatar dengan distribusi alterasi dan mineralisasi di Daerah Pengkok, Kabupaten Gunungkidul masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi model sesar mendatar serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap karakteristik alterasi dan mineralisasi melalui pendekatan berupa pemetaan geologi lapangan, analisis struktur geologi, pengukuran rekahan menggunakan metode scanline pada beberapa lintasan, analisis statistik intensitas (P10 & P21), densitas (P20), dan konektivitas hidraulik yang didukung simulasi Monte Carlo, serta analisis laboratorium meliputi petrografi, mineragrafi, dan XRD yang diintegrasikan dalam model konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun oleh tiga satuan batuan utama berumur Miosen Awal-Tengah (Surono, 2009), yaitu Satuan lava andesit Pengkok, Satuan breksi Salam, dan Satuan batupasir Pengkok, serta dikontrol oleh Sesar Mendatar Pengkok dengan pergerakan geser kanan (dextral) dengan orientasi N 295°E/84° yang berkembang bersama sistem rekahan Riedel (R, R’, dan P-shear), dengan peningkatan intensitas rekahan (P10: 2-14 m⁻¹), intensitas rekahan dua dimensi (P21: 3,002-14,45 m⁻²), dan densitas rekahan (P20: 5-28 m⁻²) menuju fault core, serta lebar damage zone yang mencapai ±54 m, yang berimplikasi pada peningkatan permeabilitas sekunder dan konektivitas fluida hidrotermal. Alterasi yang berkembang meliputi silisik, argilik, filik, dan propilitik dengan distribusi yang dikontrol oleh intensitas rekahan, sedangkan mineralisasi berupa kuarsa, pirit, sphalerit, dan kalkopirit terakumulasi pada zona rekahan intensif terutama pada bagian outer damage zone yang memiliki konektivitas hidraulik tinggi. Dengan demikian, sistem sesar mendatar Pengkok berperan sebagai kontrol utama dalam mengatur distribusi alterasi dan mineralisasi melalui pengembangan arsitektur rekahan, peningkatan intensitas deformasi, serta pembentukan jalur fluida hidrotermal yang efektif.
| Item Type: | Tugas Akhir (Skripsi) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Alterasi, Gunungkidul, Mineralisasi, Scanline, Sesar Mendatar |
| Subjek: | Q Science > QE Geology T Technology > TN Mining engineering. Metallurgy |
| Divisions: | Fakultas Teknologi Mineral dan Energi > (S1) Teknik Geologi |
| Depositing User: | Indah Lestari |
| Date Deposited: | 08 Oct 2026 06:29 |
| Last Modified: | 08 Oct 2026 06:29 |
| URI: | http://eprints.upnyk.ac.id/id/eprint/49614 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
