Bintang Hakam Rayana, . (2026) LATAR BELAKANG KERJA SAMA KEAMANAN JEPANG - FILIPINA DI ERA KISHIDA MELALUI RECIPROCAL ACCESS AGREEMENT. Skripsi thesis, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
|
Text
1_Cover_151220002_Bintang Hakam Rayana.pdf Download (185kB) |
|
|
Text
2_Abstrak_151220002_Bintang Hakam Rayana.pdf Download (204kB) |
|
|
Text
3_Halaman Pengesahan_151220002_Bintang Hakam Rayana.pdf Download (146kB) |
|
|
Text
4_Daftar Isi_151220002_Bintang Hakam Rayana.pdf Download (362kB) |
|
|
Text
5_Daftar Pustaka_151220002_Bintang Hakam Rayana.pdf Download (350kB) |
|
|
Text
6_Skripsi Full_151220002_Bintang Hakam Rayana.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini mengkaji latar belakang kerja sama keamanan Jepang dan Filipina di era pemerintahan Perdana Menteri Fumio Kishida melalui Reciprocal Access Agreement (RAA). RAA merupakan perjanjian pertahanan bilateral yang ditandatangani pada 8 Juli 2024 di Manila, menjadikan Filipina sebagai negara Asia pertama yang memiliki perjanjian akses timbal balik pertahanan dengan Jepang. Perjanjian ini mengatur kerangka hukum yang komprehensif mencakup mobilitas pasukan, penggunaan fasilitas militer, yurisdiksi hukum personel, serta mekanisme koordinasi operasional antara Self-Defense Forces Jepang dan Armed Forces of the Philippines. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Kerangka analisis yang digunakan adalah Teori Balance of Threat dari Stephen M. Walt dengan empat indikator utama yaitu kekuatan agregat, kedekatan geografis, kapabilitas ofensif, dan niat agresif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang terbentuknya RAA berakar dari meningkatnya persepsi ancaman bersama Jepang dan Filipina terhadap Tiongkok. Pertama, kekuatan agregat Tiongkok yang ditopang anggaran militer sebesar USD 314 miliar pada 2024 mengubah keseimbangan kekuatan regional secara fundamental. Kedua, kedekatan geografis kedua negara dengan wilayah proyeksi kekuatan Tiongkok di Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan meningkatkan kerentanan strategis secara struktural. Ketiga, kapabilitas ofensif Tiongkok melalui strategi Anti-Access/Area Denial serta aktivitas zona abu-abu yang melibatkan China Coast Guard dan milisi maritim menciptakan tekanan koersif yang berkelanjutan. Keempat, niat agresif Tiongkok yang terefleksi dalam berbagai insiden maritim mendorong konvergensi persepsi ancaman kedua negara. Keempat faktor tersebut secara bersama-sama melatarbelakangi Jepang dan Filipina untuk menginstitusionalisasikan kerja sama keamanan mereka melalui RAA sebagai instrumen penyeimbang kolektif di kawasan Indo-Pasifik.
Kata Kunci : Reciprocal Access Agreement, Kerja Sama Keamanan, Jepang, Filipina, Balance of Threat.
| Item Type: | Tugas Akhir (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information: | Bintang Hakam Rayana (Penulis-151220002) Erna Kurniawati (Pembimbing) |
| Uncontrolled Keywords: | Reciprocal Access Agreement, Kerja Sama Keamanan, Jepang, Filipina, Balance of Threat. |
| Subjek: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) J Political Science > JC Political theory J Political Science > JQ Political institutions Asia J Political Science > JZ International relations U Military Science > U Military Science (General) |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > (S1) Ilmu Hubungan Internasional |
| Depositing User: | Indah Lestari |
| Date Deposited: | 19 May 2026 07:53 |
| Last Modified: | 19 May 2026 07:53 |
| URI: | http://eprints.upnyk.ac.id/id/eprint/48460 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
