PENENTUAN FAKTOR KOREKSI OIL LOSSES PADA SEGMENT IIIA PADA JALUR PENGIRIMAN MINYAK DI SUMATERA SELATAN

RATU, YUSTIKA (2018) PENENTUAN FAKTOR KOREKSI OIL LOSSES PADA SEGMENT IIIA PADA JALUR PENGIRIMAN MINYAK DI SUMATERA SELATAN. Other thesis, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta.

[img]
Preview
Text
2. Cover.pdf

Download (104kB) | Preview
[img]
Preview
Text
3. Cover Pengesahan.pdf

Download (195kB) | Preview
[img]
Preview
Text
4. Ringkasan.pdf

Download (287kB) | Preview
[img]
Preview
Text
5. Daftar Isi.pdf

Download (112kB) | Preview

Abstract

RINGKASAN Produksi minyak dari Jalur Limau adalah berasal dari PT. Pertamina EP Asset II dan beberapa Mitra Usaha (shipper) yaitu “Jeruk”, KSO Tiara “Leci”, SP “Anggur”, Field Limau, dan KSO Indospec “Salak”. Dalam proses pengiriman minyak mentah oleh 5 shipper tersebut menggunakan pipa salur bersama, sebagai akibat sistem pengiriman dengan menggunakan pipa salur yang sama tersebut, timbul permasalahan yaitu adanya kehilangan minyak (oil losses) antara Stasiun Pengumpul (SP) sebagai titik kirim dengan Pusat Pengumpul Produksi (PPP) sebagai titik terima. Terjadinya kehilangan minyak menimbulkan permasalahan antara mitra kerja tersebut karena masing-masing mitra tidak ingin mengalami kerugian dengan adanya kehilangan minyak sehingga dilakukan perhitungan oil losses untuk mengetahui darimana kehilangan minyak tersebut terjadi. Perhitungan Losses didasarkan atas faktor Penyusutan (shrinkage), Emulsi dan Penguapan (Flash). Perhitungan losses akibat penyusutan di hitung berdasarkan adanya perbedaan densitas dari minyak yang bercampur dan densitas sampel dari setiap titik sampling, karena terdapat selisih antara densitas keduanya sehingga di simpulkan bahwa terdapat losses di setiap shipper. Kita dapat menghitung nilai losses dengan memasukan data actual yang didapatkan sesuai kondisi produksi lapangan yang terjadi, dan mendapatkan nilai shrinkage total dan individu di system jaringan pemipaan. Emulsi terjadi karena air yang masih terdapat dalam minyak, untuk itu kita menghitung emulsi berdasarkan nilai BS&W dan SG dari setiap Shipper yang kemudian ditambahkan dengan air formasinya sampai emulsi itu stabil (tidak terjadi perubahan nilai emulsi dengan adanya penambahan air formasi). Penguapan akan terjadi apabila suhu minyak sudah mencapai titik didihnya. Indikasi adanya penguapan ditunjukkan dengan nilai fraksi uap (nv) fluida. Jika nv = 0, artinya fluida dalam fasa cair, kika nv = 1, artinya fluida dalam fasa uap (gas), sedangkan jika nilai nv diantara 0 dan 1 (0<nv<1), maka fluida dalam fasa campuran cair-uap (sebagian komponen ringan yang menguap). Dari ketiga factor di atas yang menyebabkan losses adalah factor penyusutan, dimana nilai losses yang terjadi pada SPU “Bali” sebesar 0,087 % atau 1.30 BOPD, sedangkan total penyusutan di sistem jaringan pemipaan jalur Limau adalah sebesar 0.053 % atau sekitar 6.59 BPOD. Untuk Emulsi tidak menyebabkan losses karena apabila air dicampur dalam minyak. Dari hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa minyak Field Limau setelah dilakukan percobaan berada pada BS&W 0,0% vol dan SG 0,9028, sehingga koreksi BS&W untuk minyak ini adalah 0,0% vol.. Penguapan juga tidak menyebabkan adanya kehilangan minyak (losses) karena penguapan akan terjadi apabila suhu minyak sudah mencapai titik didihnya. Minyak di sini tidak akan mendidih pada suhu lapangan (ambient) sehingga tidak terjadi losses akibat penguapan. Di sini kita tidak menghitung titik didih dari minyak namun kita menghitung nilai dari fraksi uap setiap shipper, dimana indikasi adanya penguapan ditunjukkan dari nilai fraksi uap (nv) fluida.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
Divisions: Faculty of Engineering, Science and Mathematics > School of Engineering Sciences
Depositing User: Basir Umaryadi
Date Deposited: 27 Nov 2018 03:33
Last Modified: 27 Nov 2018 03:33
URI: http://eprints.upnyk.ac.id/id/eprint/17433

Actions (login required)

View Item View Item